GANG kecil di kawasan Blok F, Jalan Lambung Mangkurat, Samarinda, Jumat 22 Mei 2026 siang itu mendadak ramai. Warga berkerumun di depan sebuah rumah sempit yang lebarnya bahkan tak sampai tiga meter. Di ujung gang, seorang perempuan berbaju putih dan celana abu-abu datang mengendarai sepeda motor.

Ia adalah Sarifah Suraidah, istri Gubernur Kalimantan Timur.

Tanpa pengawalan berlebihan, Sarifah turun dari motor lalu melangkah masuk ke rumah milik Nur Fitriani—perempuan yang lebih dikenal warga Samarinda dengan nama Maria Mercedes. Sosok pengamen yang kerap viral di media sosial karena tingkahnya yang spontan dan ceplas-ceplos itu menyambut tamunya dengan wajah haru.

Di rumah sederhana yang berdempetan dengan bangunan lain itu, Sarifah duduk lesehan bersama keluarga Maria Mercedes. Obrolan berlangsung santai. Sesekali terdengar tawa kecil dari warga yang ikut menyaksikan pertemuan tersebut.

Kedatangan Sarifah rupanya bukan sekadar silaturahmi. Ia membawa sebuah telepon genggam baru untuk Maria Mercedes. Hadiah itu diberikan setelah mendengar keluhan Maria yang kehilangan handphone miliknya dan kesulitan menghubungi keluarga maupun teman-temannya.

Namun perhatian Sarifah tak berhenti di situ. Setelah melihat langsung kondisi rumah yang dinilai tidak layak huni, ia juga menyatakan akan membantu perbaikan tempat tinggal Maria Mercedes.

Maria dikenal juga Acil Ipit tampak berkali-kali mengusap wajahnya. Perempuan yang selama ini dikenal riuh di jalanan Samarinda itu mendadak menjadi lirih. Saat Sarifah berpamitan pulang, Maria Mercedes meminta waktu sejenak untuk berdoa.

“Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Ya Allah ya Rohman ya Rohim, mudah-mudahan Ibu Gubernur sekeluarga dalam lindungan-Mu dan dijauhkan dari segala marabahaya,” ucap Maria dengan suara bergetar.

Doa itu belum selesai ketika ia langsung memeluk Sarifah erat.

“Mudah-mudahan Allah memberkahi pian,” katanya.

Sarifah membalas pelukan itu sambil tersenyum. “Ada salam dari Bapak Gubernur Kaltim,” ujar Sarifah pelan.

Kalimat singkat itu justru membuat suasana berubah emosional. Maria Mercedes mendadak menangis. Ia meminta maaf karena pernah memukul-mukul pagar Kantor Gubernur Kalimantan Timur saat ikut dalam aksi massa beberapa waktu lalu.

Tak lama kemudian, tubuh Maria limbung. Ia jatuh pingsan di depan rumahnya sendiri. Warga yang berada di sekitar lokasi pun panik mencoba membangunkannya.

Di tengah kepanikan itu, Ketua DRUPADI Baladika, Lilis, mencoba mencairkan suasana dengan candaan.

“Bangun, kalau nggak bangun suami mu nanti diambil orang,” teriaknya.

Candaan itu membuat warga tertawa. Sarifah pun ikut tersenyum melihat tingkah Maria Mercedes yang memang dikenal ekspresif.

Selama berada di lokasi, Sarifah juga berbincang dengan anggota keluarga Maria Mercedes dan warga sekitar. Anak-anak yang memenuhi gang sempit itu turut mendapat rezeki. Sarifah membagikan uang pecahan Rp20 ribu baru sebagai uang jajan.

Keluarga Maria Mercedes berfoto bersama Istri Gubernur Kaltim Sarifah Suraidah di depan rumah.

Bagi warga Samarinda, nama Maria Mercedes memang bukan sosok asing. Ia kerap menjadi hiburan spontan di tengah keramaian kota. Kadang mengamen, kadang tiba-tiba pingsan di jalan, atau hadir di berbagai acara publik. Ia bahkan pernah menjadi perhatian saat bersalaman dengan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka di Stadion Segiri.

Belakangan, Maria Mercedes juga sempat menjadi sorotan setelah ikut mengetuk pagar Kantor Gubernur Kalimantan Timur di tengah aksi demonstrasi sejumlah kelompok masyarakat.

Tetangga sekitar mengenalnya sebagai sosok yang aktif dan mudah berbaur. Sehari-hari ia hidup sederhana dari mengamen dan mendatangi berbagai keramaian, mulai dari kampanye politik hingga demonstrasi warga.

“Nada bicaranya keras, tapi orang-orang suka,” kata seorang warga.

Ketua Umum Baladika, Helmi, mengatakan kedatangan mereka awalnya hanya untuk menyerahkan hadiah handphone yang sebelumnya dijanjikan Ketua DPW DRUPADI Baladika kepada Maria Mercedes.

“Awalnya memang hanya ingin memberikan handphone. Tapi setelah melihat kondisi rumahnya, kami merasa beliau juga membutuhkan perhatian lebih,” kata Helmi.

Menurut dia, bantuan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian sosial antara Baladika dan PKK Kalimantan Timur kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di gang sempit itu, siang berjalan perlahan. Warga masih berkumpul ketika Sarifah meninggalkan rumah Maria Mercedes. Sementara Maria, yang beberapa menit sebelumnya pingsan karena haru, kembali duduk di depan rumahnya.

Kali ini sambil menggenggam erat handphone baru pemberian tamunya.