Artikel berikut ini pernah terbit di Majalah Indagkop Pemprov Kaltim. Kami terbitkan kembali artikel tersebut dalam rubrik ruangfakta.com yang ditulis oleh Muhamad Yamin.

 

Siang itu, Kamis 11 November 2014, berjejer ikan jenis baung, patin dan lais di atas panggangan rumah rakit di atas sungai. Ikan-ikan itu selama satu hingga dua hari terpanggang asap kayu bakar. Usaha ikan asap dijalankan masyarakat Desa Enggelam Kecamatan Muara Weis Kabupaten Kutai Kartanegara Kaltim ini semakin terus berkembang menjadi andalan ekonomi masyarakat daerah tersebut.

“Di desa Enggelam, ada enam kepala keluarga usaha ikan asap. Bahan ikan asap yaitu ikan Baung didapatkan dari tangkapan di danau dan sungai, tapi ikan lais dan patin ini dibudidayakan dengan keramba,” ujar Rahmad, ayah anak tiga.

Dalam sebulan, Rahmad mampu menjual tiga pikul (100 kg) ikan asap ke agen pelanggannya di kota Samarinda dan Tenggarong. Ia mampu meraup untung hingga Rp 3 juta. Rahmad memberanikan diri tinggal di desa Enggelam terletak di tengah Danau Melintang, jauh dari kotabangun.

Rahmad tinggal di desa Enggelam tengah danau, harus banyak menghadapi risiko. Maklum, faktor cuaca seperti gelombang air di danau dan angin kencang cukup membahayakan. Masyarakat desa Enggelam mesti waspada dari kecelakaan perahu ces di tengah danau akibat cuaca, tenggelam yang akan memakan korban jiwa.

Dari Kecamatan Kotabangun, mesti melalui Danau Semayang dan Danau Melintang yang harus waspada terhadap cuaca angin kencang dan gelombang tinggi. Sedangkan dari Kecamatan Muara Muntai selama 10 menit menuju Desa Enggelam.

Meski begitu, usaha ikan asap ini dijalankan Rahmad sangat membantu banyak nelayan yang mengandalkan penjualan ikan tangkapannya dan warga yang membudidayakan ikan patin di Desa Enggelam. “Saat ini, semakin banyak peminat menyantap ikan asap. Bagi penikmat kuliner, ikan asap ini sangat lezat dihidangkan dengan sayur santan maupun digoreng,” ujar Rahmad.

Pada hari besar seperti Idul Fitri dan bulan puasa, ikan asap sangat laris dijual. Rahmad hampir kewalahan memenuhi pesanan. Ikan salai ini sangat sedap diolah dengan kuah santan atau digoreng lalu disajikan dengan sambal kerap dijadikan bekal bagi sejumlah jamaah haji yang berangkat ke Tanah Suci karena tahan lama.

Ikan asap dijual Rahmad ke agen pelanggan untuk jenis ikan baung seharga Rp 175 ribu per kg sedangkan ikan patin dan ikan lais Rp 130 ribu per kg. Penjual agen ikan asap menjualnya lagi ke konsumen bisa mencapai Rp 250 ribu per kg.

Rahmad membuat ikan salai menggunakan kayu jeluma yang banyak ditemui di sekitar kawasan Desa Muara Enggelam untuk mengasapi salai ikan. Kayu ini unggul dibandingkan jenis kayu lainnya, antara lain daging ikan akan tampak lebih kuning dengan panas merata. Rasa salai ikannya pun berbeda. Usaha salai ikan dijalankannya secara turun-temurun. “sudah sampai 3 turunan,” tuturnya.

Sebelumnya, ikan-ikan ini dibersihkan bagian isinya dan disikat, lalu dibakar sampai kering. Dia membangun sendiri ruang pembakaran berukuran 4×10 meter di belakang rumahnya. Ruangan itu beratapkan seng. Ikan salai ini mampu bertahan hingga 2 bulan, meskipun tak disimpan dalam kulkas.

Proses pengasapan ikan salai selama 1-2 hari hingga ikan tampak kering dengan warna kekuningan. Rahmad mengasapi ikan sebanyak 2 pikul atau 200 kg. Sebelumnya, ia membeli ikan baung, patin, lais dan mentilap ke para nelayan sekitar yang sebagian besar adalah warga Muara Enggelam.

“Saya membeli langsung ikan tangkapan nelayan sekitar. Ikan baung atau mentilap harganya Rp 28 ribu/kg, lais Rp 20 ribu/kg dan patin Rp 16 ribu/kg,” kata ayah dari tiga orang anak itu. Ikan Salai diolah Rahmad bisa ditemui di Pasar Ijabah dan pinggir Jalan Antasari, Samarinda. “Saya punya langganan tetap 4 orang, yakni 3 orang di Samarinda dan seorang di Tenggarong,” ujarnya lagi.

Rahmat mengaku omset yang didapatkan dari penjualan ikan salai berkisar Rp 2-3 juta dapat menyekolahkan ketiga anaknya. Bahkan, anak pertamanya sudah duduk di bangku kuliah. Ia berharap pemerintah bisa memperhatikan dan megembangkan usaha ikan salai ini karena menjadi ciri khas dari Desa Enggelam Danau Melintang Kaltim.