Artikel berikut ini pernah terbit di Majalah Indagkop Pemprov Kaltim. Kami terbitkan kembali artikel tersebut dalam rubrik ruangfakta.com yang ditulis oleh Muhamad Yamin.
Obor-obor kecil menerangi pinggir jalan ditengah keramaian malam Jl Pulau Sebatik Samarinda Kaltim. Obor itu tanda khas penjual usaha makanan lemang yang berjualan. Usaha lemang ini sudah dijalankan empat generasi dari keluarga Datuk Alur Gadur Nanang. Diam-diam, lemang ini menjadi oleh-oleh makanan yang dibawa orang luar ke Singapura, Jakarta hingga Medan.
“Lemang ini awet hingga dua hari. Jadi, bisa menjadi makanan oleh-oleh,” jelas Siti Sabariah (50), salah satu penjual lemang merupakan cucu dari Alur Gadung Nanang. Setiap hari, ia berjualan lemang mulai pukul 16.00 sore hingga pukul 23.00. Perempuan dengan tiga anak ini bersama-sama berjualan keluarganya, ipar, ibunya hingga anaknya.
Lemang merupakan makanan nasi ketan yang dimakan dengan telur asin. Sedangkan, di Sumatera, makanan sejenisnya dikonsumsi dengan tape ketan hitam dan buah durian. “Di Sulawesi juga ada nama khas dari makanan nasi ketan ini, namun namanya berbeda. Kalau tidak salah, Disana disebut nasi gulung. Nah, di Kalimantan, makanan ini disebut Lemang,” ujar Siti Sabariah.
Setiap hari, Siti Sabariah membuat 10 bambu lemang dengan bahan baku olahan 5 kg beras ketan. Keuntungan diperolehnya, bisa mencapai Rp 300 ribu per hari, sedangkan saat sepi hanya dapat Rp 100 ribu.
“Lemang juga banyak dipesan orang-orang kantor ketika ada acara rapat. Bisa sampai 10 bambu lemang terjual. Paling laris, lemang terjual pada saat malam lebaran. Saya harus buat 30 bambu lemang. Kendala membuat lemang ini, hanya bambu saja habis tidak ada lagi yang menjual. Karena bambu diambil dari hutan,” ujar Siti.
Satu iris lemang dijual Rp 2500 dan 1 bambu lemang harganya Rp 35 ribu. Ada pula telur asin dijual per butir Rp 4000. Bantuan usaha lemang ini diceritakan Siti Sabariah sudah banyak diteria. Perhatian bantuan dari perbankan, Walikota dan Gubernur Kaltim serta Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). Bantuan penerangan jualan lemang sempat datang, namun obor sebagai penerangan penjual lemang telah jadi ciri khas.
“Kalau dihilangkan obornya, kurang sreg jualan lemang. Karena itu simbolnya,” ujar Siti. Tawaran jualan lemang juga pernah datang dari Pemkot Samarinda agar jualan di Jl Kusuma Bangsa. Namun, turun temurun tempat jualan lemang ini sangat sayang diganti tempatnya.
Usaha Siti Sabariah menjual lemang, sangat membantu ekonomi keluarganya. Suaminya, Asma Rahardi (55), hanya tukang ojek. Pemasukan usaha lemang bisa membiayai kebutuhannya sehari-hari dan modal usaha. Nasib yang sama juga dirasakan iparnya-iparnya yang juga ada janda beranak empat.
“Penjual lemang ini ada ipar saya yang janda, Fitriani (50) memiliki empat anak dan ipar saya namanya Fatimah. Dua keluarga saya ini janda dan usaha lemang sangat membantu memenuhi kebutuhannya,” katanya.
Makanan lemang masih menjadi favorit masyarakat Samarinda. Namun, seiring naiknya harga-harga kebutuhan pokok seperti makanan turut mempengaruhi jumlah penjualan lemang. Warga lebih sedikit membeli lemang ketika biaya kebutuhan hidup semakin besar.
Jualan lemang, menurut Siti Sabariah dan keluarganya, dijalaninya dengan santai. Karena, bisa mengatur waktu kerja berjualan lemang tanpa diperintah orang lain. Selain itu, jualan lemang di pinggir jalan dapat melepas stress.
“Ada hiburan ketika jualan lemang di pinggir jalan. Daripada bosan di rumah tidak melakukan apa-apa, lebih baik berjualan di luar sambil melihat-lihat hiburan di pinggir jalan. Dengan usaha sendiri, jadi bisa mencari rezeki sendiri,” ujar Siti.
