Ruangfakta.com. SAMARINDA — Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kukar untuk membantu memulangkan orang terlantar ke daerah asalnya. Langkah ini dilakukan setelah anggaran pemulangan yang tersedia di Dinsos habis, sementara kasus orang terlantar masih ditemukan di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Warga Korban Tindak Kekerasan Dinsos Kukar Sunarko mengatakan, bantuan Baznas menjadi salah satu solusi agar warga terlantar tetap dapat memperoleh layanan pemulangan.
”Sampai saat ini, untuk pemulangan orang terlantar, kami meminta bantuan Baznas,” ujar Sunarko, Sabtu (10/10).
Menurut Sunarko, laporan mengenai orang terlantar cenderung berkurang sejak anggaran pemulangan tidak lagi tersedia. Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti kasus orang terlantar sudah tidak ditemukan. Dalam situasi tertentu, Dinsos masih menerima laporan warga yang membutuhkan bantuan untuk kembali ke daerah asalnya.
Salah satu persoalan yang kerap ditemukan berkaitan dengan pekerja dari luar Kalimantan Timur yang datang ke Kukar untuk mencari pekerjaan, terutama di sektor perkebunan kelapa sawit. Sebagian pekerja menghadapi ketidakjelasan kontrak kerja maupun jaminan pembayaran upah. Ketika muncul persoalan, mereka berisiko ditelantarkan oleh pihak yang mempekerjakan.
Sunarko menilai, penanganan persoalan tersebut perlu didukung dengan pendataan administrasi kependudukan yang jelas. Data identitas dan informasi keluarga dapat membantu petugas menelusuri asal-usul warga serta mempermudah proses pemulangan.
”Langkah yang tepat adalah mengurus administrasi kependudukan agar memiliki data yang jelas,” katanya.
Salah satu kasus yang baru ditangani Dinsos Kukar adalah pemulangan seorang lansia berusia 70 tahun ke Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Lansia tersebut sebelumnya datang ke Tenggarong untuk mencari pekerjaan, tetapi justru terlantar setelah menerima informasi pekerjaan yang tidak jelas.
Sunarko menjelaskan, lansia itu mendapat informasi bahwa calon pemberi kerja tinggal di sebuah mushala di Tenggarong. Namun, nama mushala dan lokasi tepatnya tidak diketahui sehingga keberadaan pemberi kerja sulit ditelusuri.
”Kakek tersebut mendapat informasi bahwa pemberi kerja tinggal di salah satu mushala di Tenggarong. Namun, nama mushala dan lokasinya tidak jelas. Akhirnya, ia telantar di Tenggarong,” ujar Sunarko.
Proses pemulangan dapat dilakukan setelah petugas menemukan catatan nomor telepon cucu lansia tersebut. Dinsos kemudian menghubungi pihak keluarga untuk memastikan kesediaan mereka menerima kembali sang kakek di Tabalong.
Sunarko menegaskan, Dinsos Kukar tetap berupaya memberikan pelayanan kepada setiap warga terlantar yang ditemukan di wilayahnya, termasuk mereka yang berasal dari luar daerah. Menurut dia, lokasi terjadinya kasus menjadi salah satu pertimbangan dalam penanganan oleh pemerintah daerah.
”Memang benar, orang yang telantar itu berasal dari luar Kukar. Namun, karena kasusnya terjadi di Kukar, kami yang harus menangani,” katanya.
Di tengah keterbatasan anggaran, Sunarko mengapresiasi dukungan Baznas Kukar yang membantu proses pemulangan warga terlantar. Kerja sama tersebut dinilai penting agar masyarakat yang membutuhkan pertolongan tetap mendapatkan layanan, meskipun kemampuan anggaran pemerintah daerah terbatas.
”Kami sangat terbantu dengan bantuan Baznas di tengah defisit anggaran yang terjadi secara nasional, bukan hanya di Kukar,” tuturnya. (Red/adv)
