Ruangfakta.com. TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) akan mengalihkan bantuan makanan siap saji menjadi bahan pangan mentah setelah operasional dapur umum bagi korban kebakaran di RT 33, Kelurahan Melayu, Tenggarong, berakhir pada Kamis (8/10/2026).

Dapur umum yang dikelola Dinas Sosial (Dinsos) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar tersebut telah beroperasi sejak Selasa (6/10/2026) dengan menyiapkan hingga 300 porsi makanan setiap hari.

Kepala Bidang Penanganan Korban Bencana Dinsos Kukar Riadi Hadiwinoto mengatakan, operasional dapur umum memang memiliki batas waktu maksimal tiga hari. Setelah itu, pola bantuan disesuaikan dengan kondisi warga terdampak.

“Sebenarnya standar kita untuk dapur umum maksimal tiga hari. Karena bencana ini sifatnya jangka panjang. Beda dengan bencana seperti misalkan banjir, itu kan paling satu hari sudah surut,” kata Riadi saat ditemui di dapur umum, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, tidak seluruh warga terdampak berada di lokasi pengungsian. Sebagian korban memilih tinggal sementara bersama keluarga sehingga kebutuhan makanan siap saji di dapur umum tidak sebanyak saat awal bencana.

“Makanya nanti kita akan drop barang-barang mentah untuk didistribusikan ke masing-masing keluarga,” ujarnya.

Selama dapur umum beroperasi, Dinsos dan BPBD memberikan pelayanan dalam satu lokasi. Jumlah makanan yang disiapkan juga disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Penyesuaian dilakukan karena bantuan makanan dari masyarakat dan donatur turut berdatangan. Jika terdapat bantuan makanan dari pihak lain, porsi yang disiapkan dapur umum akan dikurangi untuk mencegah makanan terbuang.

“Kita sesuaikan, karena sumbangan dari warga juga banyak. Makanya ketika kita tahu ada yang datang, kita kurangi porsi kita,” jelasnya.

Sisa bahan makanan juga akan dimanfaatkan untuk membantu warga. Dinsos tidak akan membiarkan bahan pangan yang masih dapat digunakan terbuang.

“Daripada mubazir, kita kurangi porsi. Nanti kalau ada sisa bahan mentahnya, kita distribusikan lagi ke masyarakat,” katanya.

Selama dapur umum berjalan, makanan umumnya disediakan dua kali sehari, yakni siang dan sore. Sementara kebutuhan makan pada pagi hari sebagian terbantu dari makanan yang disalurkan para donatur.

Riadi mengatakan keberadaan dapur umum mendapat respons cukup baik dari warga. Namun, pihaknya menyadari kebutuhan setiap keluarga berbeda sehingga menu yang disediakan menyesuaikan kemampuan dapur umum.

“Karena kita kan standar menunya juga terbatas. Enggak mungkin bisa menyiapkan kebutuhan masing-masing masyarakat,” pungkas Riadi. (faj/adv)