Ruangfakta.com. SWISS – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong perdamaian Palestina dengan bergabung dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, sebuah badan internasional yang bertugas mengawal stabilisasi serta rehabilitasi pascakonflik di Gaza.

Komitmen tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono usai Presiden Prabowo Subianto menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Keterangan itu disampaikan Menlu di Bad Ragaz, Swiss, Jumat (23/1/2026).

Menlu Sugiono menjelaskan, salah satu agenda utama Presiden Prabowo dalam rangkaian pertemuan internasional tersebut adalah penandatanganan Charter Board of Peace. Penandatanganan ini merupakan kelanjutan dari proses dialog panjang dan sejumlah pertemuan antarnegara, khususnya negara-negara Islam dan negara dengan mayoritas penduduk Muslim, yang membahas situasi Palestina.

“Penandatanganan Charter Board of Peace atau Dewan Perdamaian ini merupakan bagian dari proses yang selama ini kita lakukan dalam rangka menyelesaikan konflik, mencapai perdamaian, serta melakukan rehabilitasi pascakonflik di Palestina, khususnya Gaza,” ujar Sugiono dikutip dari Setkab.go.id.

Menurutnya, pembentukan BoP lahir dari tekad bersama untuk melibatkan komunitas internasional secara lebih konkret guna mewujudkan perdamaian yang permanen di Gaza. Rangkaian pertemuan tersebut berlanjut hingga pertemuan di Sharm El Sheikh, Mesir, yang menjadi momentum penandatanganan piagam Board of Peace.

“Board of Peace ini adalah badan internasional yang kini resmi dibentuk untuk memonitor administrasi, stabilisasi, dan upaya-upaya rehabilitasi di Gaza dan Palestina,” tuturnya.

Sugiono menambahkan, Indonesia memandang penting untuk bergabung dalam BoP karena sejak awal konsisten mendukung perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya bagi Palestina. Meski proses pembentukan badan ini terbilang cepat, Presiden Prabowo memutuskan Indonesia ikut serta setelah mempertimbangkan berbagai aspek strategis.

“Kita sejak awal merupakan negara yang peduli terhadap perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya situasi di Palestina. Karena Board of Peace ini merupakan bagian dari upaya mencapai perdamaian tersebut, maka Indonesia harus berada di dalamnya,” tegasnya.

Keputusan Indonesia untuk bergabung juga diambil melalui konsultasi intensif dengan negara-negara yang tergabung dalam Group of New York. Menlu menyebut sejumlah negara telah sepakat menjadi bagian dari BoP, di antaranya Arab Saudi, Persatuan Emirat Arab (PEA), Qatar, Yordania, Turkiye, Pakistan, Mesir, serta Indonesia.

“Dua hari sebelum penandatanganan, seluruh negara tersebut sepakat untuk bergabung bersama Board of Peace,” ungkapnya.

Menlu Sugiono meyakini kehadiran BoP merupakan langkah konkret yang telah lama dinantikan untuk mengawal proses perdamaian Palestina. Kehadiran negara-negara tersebut diharapkan mampu memastikan setiap langkah tetap berorientasi pada kemerdekaan Palestina dan terwujudnya solusi dua negara.

“Yang terpenting adalah memastikan bahwa upaya Board of Peace ini tetap berorientasi pada kemerdekaan Palestina dan tercapainya solusi dua negara,” katanya.

Menutup keterangannya, Sugiono menegaskan bahwa BoP tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Badan ini tidak ditujukan untuk menggantikan PBB. Ini adalah badan internasional yang lahir dari kepedulian bersama untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas, khususnya di Gaza. Oleh karena itu, Indonesia memutuskan untuk bergabung,” pungkasnya.