Ruangfakta.com, TENGGARONG — Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, Aulia Rahman Basri, mendorong organisasi perangkat daerah (OPD), rumah sakit umum daerah, badan usaha milik daerah, kecamatan, desa, hingga kelompok masyarakat untuk mengembangkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Inovasi diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan publik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan asli desa.
Ajakan itu disampaikan Aulia saat menghadiri penyerahan penghargaan kepada para pemenang Pekan Inovasi dan Kreativitas Daerah 2025 di Tenggarong, Selasa (27/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam kompetisi serupa pada 2026 yang digagas Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kukar.
Menurut Aulia, inovasi tidak boleh dipandang sebelah mata karena dapat menghasilkan manfaat yang luas, bahkan membuka peluang pasar hingga ke luar negeri. Ia mencontohkan produk abon ikan haruan yang dikembangkan Hanna, aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kukar, dan disebut telah menembus pasar ekspor ke Kamerun, Afrika.
“Jangan remehkan inovasi karena hasilnya bisa luar biasa. Potensi inovasi di Kukar sangat besar, mulai dari kecamatan, kelurahan, hingga desa,” kata Aulia.
Ia menekankan, inovasi yang dikembangkan pemerintah daerah sebaiknya tidak berhenti pada keikutsertaan dalam perlombaan. Program tersebut perlu menghasilkan perubahan nyata, baik dalam penyelenggaraan pelayanan publik maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di tingkat desa, misalnya, inovasi dapat diarahkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi lokal melalui pengembangan produk unggulan. Konsep satu desa satu produk dinilai dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PADes), sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Aulia mengingatkan, luas wilayah dan besarnya anggaran daerah tidak otomatis menjadikan suatu daerah unggul dalam inovasi. Menurut dia, pemerintah daerah perlu membangun budaya kreatif agar potensi yang dimiliki Kukar dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Jangan sampai kita kalah dengan daerah yang wilayah dan APBD-nya lebih kecil, tetapi memiliki banyak inovasi. Kukar wilayahnya luas, sehingga sayang kalau potensi inovasinya tidak dikembangkan,” ujarnya.
Ia juga menilai, keberhasilan suatu instansi dalam mengikuti dan memenangkan kompetisi inovasi secara berulang merupakan hal positif. Sebaliknya, minimnya inovasi di sebuah organisasi perlu menjadi bahan evaluasi bagi pimpinan instansi tersebut.
Potensi inovasi perangkat daerah dan desa
Aulia menyebutkan, sejumlah perangkat daerah memiliki peluang untuk menghasilkan inovasi yang dapat dikembangkan dan diikutsertakan dalam kompetisi. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesehatan, misalnya, memiliki banyak unit pelayanan yang berpotensi melahirkan gagasan baru.
Menurut dia, inovasi tidak harus selalu berupa teknologi yang rumit. Pembaruan metode pelayanan, pengembangan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, hingga pemanfaatan potensi lokal dapat menjadi bagian dari inovasi daerah.
Pemerintah Kabupaten Kukar juga berharap semakin banyak inovasi yang dapat memperkuat posisi daerah dalam penilaian dan penghargaan inovasi tingkat nasional, termasuk Innovative Government Award (IGA).
Sementara itu, Kepala BRIDA Kukar Bahari Joko Susilo mengatakan, pihaknya berharap jumlah peserta Pekan Inovasi dan Kreativitas Daerah 2026 meningkat. Peserta yang diharapkan berpartisipasi berasal dari OPD, rumah sakit umum daerah, badan usaha milik daerah, kecamatan, desa, serta kelompok masyarakat.
Bahari mengungkapkan, masih terdapat sejumlah OPD yang belum mengirimkan proposal inovasi untuk mengikuti kompetisi tahun ini. Karena itu, BRIDA memberikan batas waktu kepada perangkat daerah agar segera menyiapkan dan mengajukan proposal.
Pada kompetisi 2025, penghargaan diberikan kepada sejumlah inovator dari berbagai kategori. Untuk kategori OPD, salah satu inovasi yang meraih penghargaan berasal dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melalui sistem jemput bola pelayanan administrasi kependudukan bagi masyarakat.
Adapun juara pertama kategori kecamatan diraih Kecamatan Muara Wis, sedangkan kategori desa dimenangi Desa Kota Bangun III, Kecamatan Kota Bangun Darat.
Penghargaan tersebut diharapkan menjadi dorongan bagi perangkat daerah dan masyarakat untuk terus mengembangkan gagasan baru. Dengan semakin banyak inovasi yang diterapkan, Pemerintah Kabupaten Kukar berharap kualitas pelayanan publik meningkat dan potensi ekonomi lokal dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.(Red/Adv)
