Ruangfakta.com, SAMARINDA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Kaltim pada Desember 2025 mengalami pelemahan secara bulanan. NTP tercatat sebesar 147,89, atau turun 0,30% dibandingkan November 2025. Meski demikian, BPS menegaskan kondisi daya beli petani masih berada pada level surplus.

Kepala BPS Kalimantan Timur Dr Yusniar Juliana menjelaskan, pelemahan NTP dipengaruhi oleh kenaikan biaya yang harus dikeluarkan petani yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga hasil produksi pertanian.

“Pada Desember 2025, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) hanya naik 0,13%, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) meningkat 0,43%, sehingga NTP mengalami penurunan secara bulanan,” ujar Yusniar dalam rilis resminya.

Meski NTP secara umum melemah, dua subsektor justru mencatat kinerja positif, yakni peternakan dan hortikultura. BPS mencatat NTP subsektor hortikultura naik signifikan sebesar 3,62%, sementara NTP peternakan meningkat 0,78% pada Desember 2025.

Sebaliknya, terdapat tiga subsektor yang mengalami penurunan NTP, yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,03%, tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,13%, serta perikanan sebesar 0,34%.

Secara level, NTP masing-masing subsektor pada Desember 2025 tercatat NTP Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 102,97, Hortikultura (NTPH) 115,21, Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 209,07, Peternakan (NTPT) 108,13, serta Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) 102,56.

Selain NTP, BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Kalimantan Timur pada Desember 2025 sebesar 153,93, atau turun 0,13% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan NTUP terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat dan perikanan, sementara subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan mengalami kenaikan.

Yusniar menegaskan, NTP merupakan indikator penting untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan, yang dihitung dari perbandingan antara It dan Ib. “Semakin tinggi NTP, maka semakin kuat pula daya tukar produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi,” jelasnya.

Berdasarkan hasil survei pemantauan harga di enam kabupaten, yakni Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan Penajam Paser Utara, BPS menilai petani Kaltim masih berada dalam kondisi surplus daya beli, meskipun mengalami koreksi bulanan.

Secara tahunan, kinerja NTP Kaltim juga masih menunjukkan tren positif. NTP Desember 2025 tercatat naik 1,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan adanya perbaikan daya beli petani sepanjang 2025.

Sementara itu, secara nasional, NTP pada Desember 2025 tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,05%, dengan mayoritas provinsi mencatat perbaikan NTP dibandingkan bulan sebelumnya.